Sabtu, 10 November 2007

Stroke

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi bio-kimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa (Jauch, 2005). Bila dapat diselamatkan, kadang-kadang si penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, hilangnya sebagian ingatan atau kemampuan bicaranya. Untuk menggarisbawahi betapa seriusnya stroke ini, beberapa tahun belakangan ini telah semakin populer istilah serangan otak. Istilah ini berpadanan dengan istilah yang sudah dikenal luas, "serangan jantung". stroke terjadi karena cabang pembuluh darah terhambat oleh emboli. emboli bisa berupa kolesterol atau mungkin udara

Jenis Stroke
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemorragik. Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini.
Pada stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi pada penderita hipertensi.
Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung.
Suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.
Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).
Emboli lemak jarang menyebabkan stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri.
Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke.
Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

Stroke is a cause of poverty and is caused by poverty. Stroke prevention, along with the prevention of other chronic (noncommunicable) diseases, is a grossly neglected feature of the global development agenda,1 despite the huge economic and health burdens due to stroke. The reasons for this neglect are complex. They include a series of myths which have perpetuated the mistaken notion that stroke and chronic diseases in general are primarily problems of wealthy countries and which do not require serious government intervention. Nothing is further from the truth. A serious and balanced global health development agenda should include all key health issues, not just those which have a historical precedence.2
Stroke is the third leading cause of death, responsible for 5.7 million deaths each year, the vast majority of which occur in low-income and middle-income countries.3 Stroke rates in middle-aged people (30 to 69 years) are 5 to 10 times higher in large countries such as Russia, India, China, Pakistan and Brazil, compared with the United Kingdom or the United States.3 Projections suggest that, without intervention, the number of deaths from stroke will rise to 6.3 million in 2015 and 7.8 million by 2030 with the vast bulk in poor countries.3,4
The article on stroke in India in this issue of Stroke5 illustrates the key challenges to be addressed in the global prevention and control of stroke. First, stroke is becoming an even more important cause of premature death and disability in low-income and middle-income countries, largely driven by demographic changes (increased size and the ageing of populations) and enhanced by the increasing prevalence of the key modifiable risk factors, especially in urban populations. Second, the poor are increasingly affected by stroke, both because of the changing population exposures to risk factors and, most tragically, because of the high costs of care. Because the majority of survivors of an acute event continue to live with disabilities, the costs of ongoing rehabilitation and care, largely undertaken by family members, will further impoverish families.
The staggering costs of rtPA in India and other poor countries is scandalous; this is particularly ironic because India is the home of a thriving generic drug industry. Over three quarters of the costs of care for the patient described in scenario 1 by Pandian et al was for rtPA which should be administered in the context of a stroke unit.5 It is no wonder that poor people cannot afford modern therapies even where appropriate facilities are available. Even aspirin, although relatively cheap and readily available, is not routinely administered in low-income and middle-income countries.6 There is an urgent need to further explore the effectiveness of a cheap combination pill for people at high risk of cardiovascular disease.
As Pandian et al note, given the particular health and development problems in India and other low-income and middle-income countries, the way forward is to ensure much more emphasis on the prevention of stroke in the first place. There is sufficient information available on the importance of the main risk factors to guide action. The significance of these risk factors is the same in all countries and all subpopulations even if the chronic disease rates are higher in some populations due to their risk factor exposures.7
WHO has proposed a global goal, additional to the Millennium Development Goals, which aims to reduce chronic disease death rates by an additional 2% per year over current trends.8 The goal, if reached, would avert 36 million chronic disease deaths by 2015, of which about one sixth (6.5 million) would be due to stroke.3 These averted deaths would result in substantial economic savings. The Lancet chronic disease prevention initiative will be presenting evidence in December 2007 on the health impacts and costs of a small number of population-wide and individual level interventions directed toward achievement of the global goal.9
Improved information on stroke incidence and mortality is a key challenge in all countries. In an effort to assist low-income and middle-income countries to get started in establishing surveillance systems for stroke, WHO recommends a stepwise approach (STEPS Stroke) through the use of standardized tools and methods for ongoing core, expanded, and optional data collection.10 Four Indian sites, supported by WHO South East Asian Region and the Indian Medical Council, were included in a test of the feasibility of this approach in low-income and middle-income countries.11
WHO has also proposed a stepwise approach to chronic disease prevention and control which builds on the experience in the Western Pacific Region.12 The main principle of this approach is a phased implementation of interventions—core, expanded and optimal—based on the availability of resources and political and community support.
There is some cause for optimism. There is increasing involvement of international stroke nongovernmental organizations. The World Stroke Organization incorporating the International Stroke Society, the World Stroke Federation and the World Federation of Neurology is supporting a greater emphasis on stroke surveillance and prevention in poorer regions. In India, the pilot phase of an integrated program for the prevention and control of diabetes mellitus, cardiovascular disease and stroke has begun.13,14 For this optimism to be realized, however, a serious scaling up of the response to stroke and other chronic diseases is urgently required in all low-income and middle-income countries. Until this is achieved, the health and economic consequences of stroke will continue to devastate the poor.

Kamis, 08 November 2007

Dengan Pengobatan Rutin, Epilepsi pada Anak Dapat sembuh Total

Dengan Pengobatan Rutin, Epilepsi pada Anak Dapat sembuh Total
-->
Penyandang epilepsi akan mengalami kejang secara spontan tanpa sebab sebagai gejalanya. Selain itu, ada pula yang disertai sebab ringan seperti kurang tidur, capek, melihat sesuatu yang berkedip-kedip, dan lain-lain. Pada anak, jenis bangkitan kejang sangat bermacam-macam, dapat berbentuk kejang kaku dan kejang kelojotan yang disertai mulut berbusa atau tidak. Bentuk yang lain berupa serangan bengong, kaget-kaget, jatuh-jatuh, atau mengecap-ngecap. Keprihatinan yang mendalam akan dirasakan semua orang jika melihat bayi berusia tiga bulan yang kejang-kejang karena epilepsi.
Namun, sangat disayangkan masyarakat sudah terlanjur mempunyai persepsi buruk tentang penyakit ini. Persepsi buruk yang dimaksud di antaranya menyatakan bahwa epilepsi merupakan penyakit keturunan, menular, dan tidak dapat disembuhkan. Padahal, dengan pengobatan yang rutin, anak penyandang epilepsi dapat sembuh secara total. Demikian kesimpulan yang didapat dari kegiatan Press Up-date dengan tema "Epilepsi pada Anak" yang diselenggarakan oleh Janssen Pharmaceutica pada 6 Juni 2001. Pada acara yang diikuti wartawan media cetak dan elektronik tersebut, hadir sebagai pembicara Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) dan Dr. Irawan Mangunatmadja, SpA.
Penyebab epilepsi pada anak, menurut Hardiono, sebagian besar tidak diketahui. Namun demikian, faktor lain yang menyebabkan timbulnya penyakit ini yaitu adanya kerusakan kecil atau besar pada otak. Kerusakan ini dapat disebabkan perdarahan, tumor, infeksi otak, kelainan bawaan, dan lain-lain. Dari seluruh kasus epilepsi, 60% di antaranya tidak diketahui penyebabnya, sedangkan pada anak yang berumur < 10 tahun sebanyak 80% tidak diketahui penyebabnya. Berdasarkan fakta tersebut, berarti sebanyak 360 ribu kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya jika dihitung berdasarkan prevalensi epilepsi di Indonesia yang berjumlah 600 ribu penderita. Di RSCM sendiri, menurut dokter spesialis anak yang juga berpraktek di Klinik Anakku, ini terdapat 175--200 kasus baru per tahun. Dengan berkembangnya teknologi kedokteran diharapkan epilepsi yang tidak diketahui penyebabnya semakin berkurang.
Sindrom epilepsi yang terjadi pada anak banyak jenisnya, di antaranya Ohtahara, Spasme Infantil, Lennox-Gastaut, dan lain-lain. Sindrom Ohtahara terjadi pada bayi berusia 0--3 bulan dengan gejala munculnya gerakan aneh yang berulang-ulang. Gejala ini memang sangat tidak khas karena bayi baru lahir sulit dikenali gerakannya. Namun, dengan observasi yang teliti dapat ditentukan gerakan tersebut kelainan atau bukan. Jika masih tidak dapat ditentukan, EEG dapat dilakukan untuk memastikannya.
Selain sindrom Ohtahara, pada bayi terutama yang berusia 3--12 bulan, dapat terjadi Spasme Infantil atau dikenal juga dengan Sindrom West. Sindroma ini ditandai dengan kejang yang dialami bayi menjelang tidur, munculnya berulang-ulang, dan berbunyi. Bayi yang mengalami spasme ini hasil EEG-nya sangat buruk. Selain itu, kejang-kejang yang sering dialaminya dapat mengakibatkan retardasi mental. Sindrom Lennox-Gastaut juga dapat dialami oleh bayi, terutama yang berusia di atas 1 tahun. Sindrom ini meliputi semua jenis bangkitan kejang seperti Atonik (jatuh-jatuh), Tonik (kejang umum), Tonik-Klonik (kejang disertai jatuh), Mioklonik, dan Absence (serangan bengong). Prognosis sindrom ini sangat buruk dan hampir 100% penderita mengalami retardasi mental.
Hal yang terpenting menurut dokter yang juga pengurus Yayasan Autisme Indonesia, ini adalah bahwa epilepsi dapat disembuhkan dengan pengobatan yang kontinyu. Untuk pasien yang akan menjalani pengobatan, harus dipastikan dahulu bahwa ia benar-benar menyandang epilepsi. Dengan diagnosis yang benar, misalnya dengan pemeriksaan EEG, dapat dipastikan bahwa seseorang menyandang epilepsi. Penyandang epilepsi yang tengah menjalani pengobatan sedapat mungkin hanya menggunakan satu jenis obat. Obat yang dipakai pun harus diminum dengan teratur, sebab jika pemakaian obat dihentikan dengan tiba-tiba maka akan menimbulkan serangan yang hebat. Pengobatan yang tengah dijalani harus diberikan secara rutin selama 2--3 tahun dan pada beberapa kasus diberikan seumur hidup.
Penyandang epilepsi yang telah menjalani pengobatan 60--80%, bebas serangan selama 3 tahun tanpa kekambuhan walaupun pengobatan dihentikan. Sebagian kecil penyandang bebas serangan, tetapi harus tetap minum obat. Hanya 2--5% penyandang epilepsi yang serangannya sulit diatasi walaupun dengan beberapa obat (intraktabel epilepsi). Pernyataan di atas merupakan harapan yang menggembirakan bagi keluarga yang salah satu anggotanya menyandang epilepsi. Selain itu, Irawan menyebutkan bahwa alternatif terakhir untuk mengobati epilepsi adalah dengan mengoperasi bagian sel saraf yang sering menimbulkan kejang. Hanya saja, setelah operasi ada bagian tubuh yang tidak dapat berfungsi karena sarafnya telah terpotong. Di Semarang telah berhasil dilakukan sepuluh operasi otak untuk pengobatan epilepsi. (Hidayati W.B.)

Epilepsi

Epilepsi
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Epilepsi, berasal dari bahasa Yunani (Epilepsia) yang berarti 'serangan'। Perlu diketahui, epilepsi tidak menular, bukan penyakit keturunan, dan tidak identik dengan orang yang mengalami ketebelakangan mental. Bahkan, banyak penderita epilepsi yang menderita epilepsi tanpa diketahui penyebabnya.
Penyebab Epilepsi
Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf (neuron), yang bertugas mengoordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan, berpikir, menggerakkan otot. Pada penderita epilepsi, terkadang sinyal-sinyal listrik tersebut, tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain; trauma kepala (pernah mengalami cedera didaerah kepala), tumor otak, dan lain sebagainya।
दिअग्नोसिस
Hippocrates adalah orang pertama yang berhasil mengidentifikasi gejala epilepsi sebagai masalah pada otak, roh jahat, dan sebagainya. Seseorang dapat dinyatakan menderita epilepsi jika orang tersebut telah setidaknya mengalami kejang yang bukan disebabkan karena alkohol dan tekanan darah yang sangat rendah. Alat bantu yang digunakan biasanya adalah:
MRI (Magnetic resonance imaging) Menggunakan magnet yang sangat kuat untuk mendapatkn gambaran dalam tubuh/ otak seseorang. Tidak menggunakan X-Ray. MRI lebih sensitif dripada CT-Scan.
EEG (electroencephalography) alat untuk mengecek gelombang otak।
पेंगोबतन
Berikut ini adalah nama-nama obat yang dipakai untuk menyembuhkan epilepsi. Semua obat harus dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter.
Carbamazepine, Carbatrol, Clobazam, Clonazepam, Depakene, Depakote, Depakote ER, Diastat, Dilantin, Felbatol, Frisium, Gabapentin, Gabitril, Keppra, Klonopin, Lamictal, Lyrica, Mysoline, Neurontin, Phenobarbital, Phenytek, Phenytoin, Sabril, Tegretol, Tegretol XR, Topamax, Trileptal, Valproic Acid, Zarontin, Zonegran, Zonisamide.
Selain dengan obat, epilepsi juga dapat disembuhkan dengan Ketogenic Diet
Orang-orang terkenal dengan एपिलेपसी
Epilepsi tidak identik dengan orang yang mengalami keterbelakangan mental. Berikut ini adalah beberapa dari sekian banyak orang ternama yang menderita epilepsi.
Penulis: Dante, Moliere, Sir Walter Scott, Edgar Allan Poe, Lord Byron, Percy Bysshe Shelley, Alfred Lord Tennyson, Charles Dickens, Lewis Carroll, Fyodor Dostoevsky, Gustave Flaubert, Leo Tolstoy, Agatha Christie, Truman Capote.
Pemimpin Dunia: Alexander Agung, raja Makedonia, Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, Harriet Tubman.
Olahragawan: Marion Clignet, Buddy Bell, Bobby Jones.
Ilmuwan: Isaac Newton, Alfred Nobel.
Tokoh Religius: Santo Paulus, Jeanne d'Arc, Søren Kierkegaard.
Komponis: George Frederick Handel, Niccolo Paganini, Peter Tchaikovsky, Ludwig van Beethoven.
Aktor: Richard Burton, Michael Wilding, Margaux Hemingway dan Danny Glover

Welcome to the No-Fad Diet

Welcome to the No-Fad Diet




Get ordering information
You may have tried several times before to lose weight, but without much long-term success. That’s no reason to feel bad about yourself — losing weight is not easy. No magic formula will trim away extra pounds and keep them off. Gimmicks and get-thin-quick schemes don’t work. That’s why, over the long haul, fad diets are not the answer.

We aren’t offering any magic either — quite the opposite. Instead, we offer you the tools you need to personalize a weight-loss plan to fit your lifestyle. You can design your own approach using three key concepts, or what
we call the Circles of Success.


To lose weight effectively, you need to set realistic goals and create a personal action plan. Your planning should focus on you, your commitment to yourself, and the three essential circles — think smart, eat well and move more. These circles will overlap as you work toward your goals, and you will need to embrace all three to achieve successful weight control for life.

Because your choices are tailored to reflect your individual needs, the actions you take to follow through will be suited to become part of your new life. It won’t happen overnight, but if you persist, it will happen! Any step you take in the right direction — no matter how small — moves you closer to your weight-loss goals and a healthier life.


“Let this book be your guide and the American Heart Association be your partner on your journey to losing weight — and keeping if off — realistically, healthfully, and successfully for years to come. Do it for you, and encourage those you love to join you. Years of added life may well be the outcome!”
—Robert H. Eckel, M.D.
President, American Heart Association, 2005–06

Our 2006 Diet and Lifestyle Recommendations

cook

A healthy diet and lifestyle are the best weapons you have to fight cardiovascular disease. It’s not as hard as you may think! Remember, it is the overall pattern of the choices you make that counts.

Make the simple steps below part of your life for long-term benefits to your health and your heart.


Use up at least as many calories as you take in.

Start by knowing how many calories you should be eating and drinking to maintain your weight. Don’t eat more calories than you know you can burn up every day. Increase the amount and intensity of your physical activity to match the number of calories you take in. Aim for at least 30 minutes of moderate physical activity on most days of the week or — best of all — at least 30 minutes every day. Regular physical activity can help you maintain your weight, keep off weight that you lose and help you reach physical and cardiovascular fitness. If you can’t do at least 30 minutes at one time, you can add up 10-minute sessions throughout the day. more

Eat a variety of nutritious foods from all the food groups.


woman shopping

You may be eating plenty of food, but your body may not be getting the nutrients it needs to be healthy. Nutrient-rich foods have vitamins, minerals, fiber and other nutrients but are lower in calories. To get the nutrients you need, choose foods like vegetables, fruits, whole-grain products and fat-free or low-fat dairy products most often. more

  • Vegetables and fruits are high in vitamins, minerals and fiber — and they’re low in calories. Eating a variety of fruits and vegetables may help you control your weight and your blood pressure.
  • Unrefined whole-grain foods contain fiber that can help lower your blood cholesterol and help you feel full, which may help you manage your weight.
  • Eat fish at least twice a week. Recent research shows that eating oily fish containing omega-3 fatty acids (for example, salmon, trout, and herring) may help lower your risk of death from coronary artery disease.

Eat less of the nutrient-poor foods.

There is a right number of calories to eat each day based on your age and physical activity level and whether you are trying to gain, lose or maintain your weight. You could use your daily allotment of calories on a few high-calorie foods and beverages, but you probably wouldn’t get the nutrients your body needs to be healthy. Limit foods and beverages that are high in calories but low in nutrients, and limit how much saturated fat, trans fat, cholesterol, and sodium you eat. Read labels carefully — the Nutrition Facts panel will tell you how much of those nutrients each food or beverage contains.

As you make daily food choices, base your eating pattern on these recommendations:

  • Choose lean meats and poultry without skin and prepare them without added saturated and trans fat.
  • Select fat-free, 1 percent fat, and low-fat dairy products.
  • Cut back on foods containing partially hydrogenated vegetable oils to reduce trans fat in your diet.
  • Cut back on foods high in dietary cholesterol. Aim to eat less than 300 milligrams of cholesterol each day.
  • Cut back on beverages and foods with added sugars.
  • Choose and prepare foods with little or no salt. Aim to eat less than 2,300 milligrams of sodium per day.
  • If you drink alcohol, drink in moderation. That means one drink per day if you’re a woman and two drinks per day if you’re a man.
  • Follow the American Heart Association recommendations when you eat out, and keep an eye on your portion sizes.

Also, don’t smoke tobacco — and stay away from tobacco smoke. more

For more information on the 2006 American Heart Association Diet and Lifestyle Recommendations. . .

  • Download our podcast.
  • Read the news release.
  • Read the scientific statement in the American Heart Association journal, Circulation.
  • Call 1-800-AHA-USA1 to order a free consumer-friendly brochure.

7 Rahasia Tetap Awet Muda


7 Rahasia Tetap Awet Muda

Banyak orang yang mengeluhkan keadaan kulit dan wajah mereka yang tampak lebih tua daripada umur sebenarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, ada 7 rahasia agar Anda tetap tampak awet muda:

1.Selalu merasa bahagia

Merasa bahagia adalah salah satu kunci utama agar tetap ter
lihat awet muda. Dalam setiap kegiatan, usahakan agar apa yang Anda lakukan sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Hindari stres, perasaan bersalah dan tertekan karena paksaan orang lain. Ingat, apa yang Anda rasakan akan tercermin pada wajah Anda. Jadi, orang yang sedang bahagia, wajahnya akan terlihat berseri-seri, santai dan lebih muda daripada usia sebenarnya.

2.Banyak bergerak

Berolahraga adalah cara agar awet muda. Lakukan joging, jalan cepat, bersepeda maupun berenang sekitar 30 menit setiap hari. Dengan olahraga, risiko terkena serangan jantung, osteoporosis, dan kanker pun akan mengecil. Olahraga teratur dapat menambah fleksibilitas otot, memperkuat tulang, serta mengurangi stres, karena sel-sel tubuh mendapat lebih banyak oksigen. Tidur Anda pun akan nyenyak.

3.Konsumsi vitamin C

Vitamin C bisa Anda peroleh dari buah-buahan segar (terutama jeruk), sayur-mayur berwarna hijau (brokoli dan lain-lain) atau suplemen vitamin C sebanyak 1000 mg perhari. Vitamin C terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi risiko terkena kanker dan melindungi tubuh dari efek yang ditimbulkan oleh polusi. Di samping itu, perbanyak minum air putih. Meminum air putih 8 gelas per hari akan mengurangi stres, menjaga kesegaran kulit, serta memperlancar kerja organ tubuh.

4.Gunakan pelindung UV

Matahari adalah salah satu faktor utama penyebab penuaan dini. Oleh karena itu, gunakan selalu lotion pelembab secara teratur setiap hari, khususnya bila akan bepergian, agar kulit tetap segar, lembab dan tidak terbakar sinar matahari, terutama sinar ultra violet (UV).

5.Istirahat cukup

Manusia butuh sekurang-kurangnya 8 jam setiap hari untuk tidur. Istirahat cukup bermanfaat untuk menghindari terbentuknya kantung mata, kulit keriput dan wajah kusam.

6.Perhatikan penampilan

Penampilan dan tata rias wajah juga memegang peranan penting. Meski usia terus bertambah, tetap perhatikan jenis kosmetik yang Anda pakai. Gunakan make-up tipis untuk kesan natural dengan tetap memperhatikan kondisi dan jenis kulit Anda.

7.Optimis

Orang yang pesimis selalu tidak percaya diri, gampang putus asa, dan tak pernah memperhatikan penampilan, yang bisa berakibat depresi. Jadi, berusahalah menjadi orang yang optimis dalam segala hal, sebab ini akan membuat hidup Anda akan lebih sehat dan bahagia. (Tabloid Nova)

Makanlah dengan "Otak", Bukan dengan Emosi!

Makanlah dengan "Otak", Bukan dengan Emosi!

Oleh Dr. Handrawan Nadesul

Bagaimana bisa tahu kalau yang kita makan itu tidak berlebihan? Dengan rutin menimbang berat badan!

Seperti balita ditimbang di posyandu, kita pun yang harus selalu mawas dengan pertambahan berat badan, perlu menimbang setiap bangun tidur pagi. Berat badan ideal kita menjadi acuan untuk tahu apakah yang kita makan berlebihan atau kurang dari yang tubuh minta.

Pola menu harian tentu harus senantiasa bervariasi. Semakin bervariasi menu semakin memenuhi kecukupan vitamin-mineral.

Tubuh membutuhkan 40-an jenis vitamin-mineral, asam amino esensial, dan nutrisi lain yang tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri. Untuk itu tubuh hanya mengandalkan dari variasi menu harian, termasuk kebutuhan akan trace-elements. Kekurangan salah satu nutrisi esensial semacam ini untuk waktu lama tentu akan mengurangi kebugaran mesin tubuh yang harus terus beroperasi setiap saat.

Menu yang komplet, utamanya protein, dibutuhkan selain untuk melumasi, juga untuk mengganti bagian tubuh yang aus, dan pembentukan zat anti.

Sel tubuh perlu terus beregenerasi. Sel tubuh juga perlu diproteksi. Sel tidak boleh layu. Kualitas sel-sel tubuh menentukan kemuliaan umur kita.

Proses menua atau lekas menjadi tua, juga lantaran sel-sel tubuh tidak terawat dengan baik. Peran besar bagi perawatan sel diberikan oleh apa yang kita konsumsi setiap hari. Kondisi tubuh kita mencerminkan otobiografi gizi harlan kita.

Untuk bisa setua
Shirli-baba Muslimov dari Azerbaijan yang masih aktif sampai usia 168 tahun, setua rata-rata umur penduduk Hunza (Pakistan), atau penduduk Rusia dan Ekuador, tentu tak bisa jika kita masih mengikuti selera hidup meja makan kita selama ini.

Zaman memang sudah berubah, pertanian dan peternakan juga sudah berubah. Yang belum berubah tekad kita untuk berubah. Seperti penduduk yang berumur panjang, kita merencanakan untuk mengisi meja makan dengan
lebih banyak ikan dan unggas, membatasi daging, rutin mengonsumsi umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur organik, buah lokal (pepaya, pisang, belimbing, sirsak, sawo, manggis), dan tinggalkan kebiasaan mengisi piring seperti porsi makan pekerja kuli.

Sekali lagi, supaya adil dan arif memperlakukan tubuh sehingga mampu hidup merentang panjang sampai ke paling ujungnya, kita harus "makan dengan otak", bukan dengan emosi. @

Makanan yang Membuat Anda Tua ...

Makanan yang Membuat Anda Tua ...

Jakarta, Selasa

Marilah kita melihat makanan buruk, yaitu makanan yang harus dihindari sebisa mungkin.

Makanan tersebut masuk ke dalam empat kategori:

1. Daging merah dan produk olahannya -- hamburger, cheeseburgers, daging lapis
2. Daging olahan seperti hotdogs, ham, dan daging asap.
3. Susu lengkap dan keju (kecuali keju rendah lemak dan yogurt)
4. Makanan yang dipanggang seperti cookies, cakes, dan donat.

Makanan tersebut merupakan sumber lemak total, biasanya masuk dalam diet Amerika. Ingatlah pula, terlalu banyak lemak di dalam tubuh berarti kanker, diabetes, hipertensi, gangguan pencernaan, dan komplikasi dalam artritis, belum lagi penyakit jantung dan kolesterol dalam darah.

Salah satu faktor yang menyebabkan daging membuat Anda tua adalah cara bagaimana ia diolah atau disimpan. Cara pengolahan hotdog, misalnya, menyebabkan kanker. Daging yang dibakar juga diketahui menyebabkan kanker.

Daging yang dibakar diketahui membentuk karsinogen di dalam daging, dan pada permukaannya. Karsinogen tersebut cenderung terbentuk di duapertiga bagian luar daging.

Kategori lain makanan yang membuat Anda tua adalah makanan olahan yang telah dibungkus dan siap dikonsumsi setelah dipanaskan dahulu dengan microwave. Mereka biasanya tinggi kalori dengan sedikit serat. Mereka biasanya (tetapi tidak selalu) menghasilkan 30 persen kalori atau lebih dari bentuk lemak. Merekah hampir selalu mengandung natrium yang tinggi pula.

Akhirnya, kategori makanan yang membuat Anda tua: makanan dalam kemasan yang dilabel makanan sehat, namun membuat Anda tua dalam cara yang terselubung. Membingungkan? Memang inilah tujuan pembuat iklan.

Beberapa contohnya: Susu 2 persen mungkin diiklankan sebagai susu “rendah lemak,” dan mungkin menghalangi kita untuk memilih susu skim, yang memang memiliki kekuatan untuk membuat kita awet muda dan lebih sehat. Daging kemasan mungkin dilabel sebagai “ayam tanpa lemak” atau “daging tanpa lemak,” namun kombinasi keseluruhannya dengan keju menghasilkan kadar lemak yang sangat tinggi. Sehingga berhati-hatilah terhadap makanan “sehat” tersebut.

Buah dan Sayuran Segar Membuat Anda Panjang Umur

  • Menurut Framingham Heart Study, mereka yang makan sedikit lemak akan hidup dua tahun lebih panjang dibandingkan mereka yang makan makanan berlemak.

Jelas makan makanan yang sehat menghasilkan hidup yang lebih panjang. Selain vitamin dan mineral, serat dan karbohidrat, terdapat substansi yang dikenal dapat membuat Anda panjang umur: fitokimiawi!

Substansi tersebut membantu untuk mencegah timbulnya kanker, dan terkandung di dalam makanan yang berasal dari tumbuhan. Sebagai hasil dari penemuan ini, masyarakat kedokteran semakin menghargai pengaruh menyehatkan yang dihasilkan dan gaya makan vegetarian. Semakin banyak dokter yang memahami kemampuan buah dan sayuran untuk memperpanjang umur dan kesehatan Anda.

Lebih dari 12 juta orang Amerika sekarang menjadi vegetarian, tetapi kelompok yang besar ini dibagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan derajat dedikasi mereka terhadap gaya makan mereka. Inilah pembagiannya.

Sebagian besar dari 12 juta orang itu masuk ke dalam kategori yang dikenal sebagai semivegetarian. Mereka tidak makan daging merah tetapi kadang-kadang makan ayam atau unggas lain, atau ikan.

Lakto-ovo-vegetarian tidak makan daging sama sekali, tidak makan unggas, tetapi makan produk hewan seperti susu dan telur, tidak seperti lakto-vegetarian yang tidak makan telur, atau vegans yang tidak makan telur dan produk susu.

Banyak kelompok yang menganggap dirinya vegetarian namun demikian kadang-kadang makan daging merah dan mencoba membatasi konsumsi mereka terhadap daging atau ikan. Inilah tampaknya kecenderungan yang terjadi pada masyarakat: makan lebih sedikit daging dan makan lebih banyak buah dan sayuran, sekurangnya pada mereka yang ingin hidup sehat dan berumur panjang.

Jinakkan Sifat Pemberang

  • Diet yang salah juga dapat membuat Anda merasa kesal dan penampilan Anda kuyu, demikian kata para peneliti di State Univerity of New York, di Stony Brook dan di Oregon Health Sciences University di Portland.

Setelah mempelajari 156 wanita dan 149 pria selama lima tahun, mereka menyimpulkan bahwa orang-orang yang mengkonsumsi kebiasaan makan orang Amerika yang kaya lemak akan lebih mudah marah dibanding mereka yang telah berubah ke pola makan lebih sehat.

Mereka yang beralih ke kebiasaan makan santapan miskin lemak menunjukkan sifat tidak begitu mudah marah dan kelihatannya tidak berpeluang mengalami depresi.

Para peneliti percaya bahwa mengurangi kandungan lemak dalam makanan dan dalam aliran darah menghasilkan dampak yang baik: Makin sedikit kandungan lemak di situ, makin baik pula suasana hati Anda. Begitu?

Biar Kulit Jeruk Saja yang Keriput ...

Biar Kulit Jeruk Saja yang Keriput ...

Wajah terlihat muda dan mulus jadi dambaan orang. Tampak sedikit keriput, biasanya langsung ribut.

Sayangnya, usaha maksimal - khususnya wanita - dalam memelihara dan memperbaiki tampilan kadang dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan dan keamanan. Apa gunanya muda dan cantik, kalau badan justru sakit?

Wajah cantik itu seperti apa sih? "Ya, seperti model di majalah," ucap Sekar enteng. Rasanya, kasihan juga kalau semua orang beranggapan seperti Sekar, sehingga berlomba-lomba memermak wajahnya bak model yang kerap tampil di majalah atau televisi. Padahal setiap orang ’kan punya karakter wajah dan kulit yang berbeda. Lagi pula, kalau setiap orang berniat memermak wajahnya seperti model, malah jadi enggak lucu. Banyak orang bakal serupa wajahnya. Betapa membosankannya dunia. Kita tahu, wajah model yang sering muncul di sampul majalah atau televisi itu sudah mengalami banyak rekayasa, sehingga tampak lebih cantik dari aslinya. Entah karena rekayasa kosmetik, tata lampu, atau desain grafis.

Kulit cantik, kulit sehat

  • Tak kurang dr. Sandra Widaty, Sp.KK, seorang dokter spesialis kulit di klinik Senopati Skin Center, Jakarta Selatan, ikut melontarkan pertanyaan yang nyaris serupa, apa sebenarnya yang membuat orang terlihat cantik?

Apakah lantaran kosmetik atau dasar wajahnya memang cantik? Sandra geleng-geleng kepala sebelum menjelaskan, "Orang terlihat cantik kalau dia sehat. Buktinya, kalau kita melihat orang sakit, wajahnya tampak pucat, kuyu, kering, tidak bersinar meskipun orang itu cantik." Ya ’kan?

Soalnya, Sandra berkata, kulit yang sehat itu cermin kondisi tubuh yang sehat. Ia punya fungsi penting selain sebagai indera perasa dan pelindung tubuh dari kondisi alam sekitar. Juga membantu mengatur suhu tubuh, melindungi tubuh dari virus dan bakteri, serta menjalankan fungsi sekresi dan pengeluaran cairan, saat kita berkeringat.

Dalam melakukan fungsi sekresi, kulit mengeluarkan minyak, namanya sebum, untuk menjaga kelembapan dan kehalusan kulit. Jadi, keringat yang kita keluarkan itu juga ada gunanya, untuk menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal.

Pasalnya, kulit kita bukan seperti selembar kertas, tetapi terdiri dari beberapa lapisan dan bagian. Tiap 1 cm2 kulit dialiri 1 m pembuluh darah, dihuni 100 kelenjar keringat, 3.000 sel sensor di ujung serabut saraf, 4 m saraf, 25 instrumen perasa, 200 ujung saraf perasa sakit, dua instrumen perasa dingin, 12 perasa panas, 10 rambut, dan 15 kelenjar minyak.

Biang keriput

  • Supaya kulit kelihatan tetap cantik dan awet muda perlu upaya. Sebab, ada faktor dari dalam dan dari luar tubuh yang menyebabkan kulit mengalami penuaan dini, alias menua sebelum waktunya.

Secara alamiah, kulit dan tubuh memang akan menua dan keriput, sejalan dengan bergulirnya usia dan waktu. "Sel dalam tubuh memiliki batas tertentu untuk bertambah dan berkembang, istilahnya biological clock," terang dr. Sandra. Selain itu, ada juga faktor bawaan atau biologis sebagai penyebab penuaan dini.

Kata orang, stres bikin cepat tua. Ini ada benarnya. Sandra bilang, kondisi stres akan menarik otot-otot ekspresi wajah. Lama-kelamaan tarikan otot-otot itu bisa membentuk kerutan di wajah. Makanya, stres jangan dibiarkan hinggap terlalu lama.

Faktor dari luar yang diyakini lebih cepat menyebabkan penuaan dini, yakni sinar ultraviolet dari Matahari, antara pukul 10.00 - 15.00. Buat pekerja yang gawe di luar ruangan sepanjang hari, perlu disadari bahwa aktivitasnya berpotensi memicu penuaan dini. Polusi udara menjadi penyumbang nomor dua. Bisa polusi asap pabrik sampai asap rokok.

Dari dalam tubuh, di samping usia, pencetus penuaan dini juga dapat datang dari malanutrisi. Tidak hanya karena kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi. Makanya, kita perlu menjalankan pola makan yang sehat dan pas. Tidak kelebihan vitamin, protein, lemak, dan sebagainya. Sebab, ketika tubuh mencerna makanan, selain menghasilkan energi, juga menghasilkan radikal bebas. Radikal bebas ini salah satu hasil dari metabolisme tubuh yang ada di dalam sel. Ia berupa molekul yang dikelilingi elektron, tapi tak punya pasangan.

Karena kelebihan elektron, radikal bebas akan mencaplok elektron lain yang berpasangan. Nah, pemecahan dan pencaplokan inilah yang merusak sel-sel lain, sehingga berujung pada penuaan dini. Radikal bebas terbentuk tidak hanya dari dalam tubuh. Ia juga bisa terbentuk karena polusi udara atau sinar ultraviolet yang menstimulasi tubuh menghasilkan radikal bebas.

Radikal bebas atau juga disebut oksidan ini bisa dicegah dengan antioksidan yang bisa didapat dari vitamin A, C, E, melatonin, dan betakaroten.

Bule lebih cepat tua?

  • Penuaan dini mudah terlihat dari luar, seperti kerutan kulit di wajah, leher, lengan, lengan bawah, punggung telapak tangan, dan telinga.

Kalau yang tersembunyi, misalnya pada lengan atas, atau paha kulit terlihat kering dan mengkilat, juga kendur. Kadang kala sedikit bersisik. Kemudian terjadi pigmentasi atau warna kulit yang tidak merata.

Ada anggapan, wanita lebih cepat tua dan keriput dibandingkan dengan pria. Anggapan ini ditepis Sandra. Katanya, "Soal penuaaan dini, wanita atau pria sama saja." Namun, penuaan dini pada ras tertentu tak dibantah. Seperti pada ras kaukasia atau orang bule. "Mereka lebih cepat terlihat tua dibandingkan dengan orang Asia."

Iklim Asia yang lembap memungkinkan cairan dalam tubuh tidak lekas menguap, sehingga kulit tidak cepat mengering. Ujung-ujungnya, ya awet muda.

"Tetapi memang wanita bisa cepat terlihat tua, karena kadar hormon estrogen di dalam tubuhnya," jelas Sandra. Pada wanita, ada masa menopause yang ditandai dengan berhentinya menstruasi, yang menyebabkan ketidakseimbangan hormonal. Akibatnya, kulit menjadi kering. Setelah itu, muncul tanda-tanda penuaan dini, yakni kulit menjadi kering, kusam, dan kendur.

Kulit menjadi kendur karena zat atau lapisan penyangga kulit yang berupa serabut collagen dan ellastin sudah tidak ada. Pada usia tua, jumlah lapisan penyangga kulit ini menurun dan menurun lebih cepat lagi jika kerap terpapar sinar Matahari. Bahan pembentuk collagen salah satunya adalah vitamin C. Tidak salah kalu banyak orang lantas mengonsumsi vitamin C demi kulit kencang.

Rajin bersihkan make-up

  • Kalau mau tetap awet muda, punya kulit cantik dan sehat, kulit butuh perawatan, dibersihkan dari kotoran, dan dijaga kelembapannya.

Bagi yang memakai make-up, butuh kesadaran tinggi untuk membersihkannya, tidak lebih dari 24 jam. Kulit butuh bernapas, sehingga make-up yang menutupi pori-pori kulit perlu dibersihkan.

Untuk membersihkan wajah jangan menggunakan sabun mandi, tetapi sabun khusus untuk wajah. Sabun mandi bersifat alkalis (basa), sehingga membuat lapisan paling atas dari kulit ari terkelupas. Padahal, kulit ari berfungsi sebagai pelindung tubuh. Akibatnya, jika cairan sabun ini masuk ke kulit, bisa terjadi iritasi seperti kulit memerah, gatal, kering, dan bersisik. Sabun yang baik untuk wajah itu pH-nya balance-nya netral, atau sama dengan pH (tingkat keasaman) kulit.

Selain kebersihan kulit, konsumis air yang cukup dibutuhkan pula untuk mencegah penuaan dini. Para pekerja kantoran yang kerap berlama-lama di ruang ber-AC perlu waspada. Sebab, tubuh bisa mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Akibatnya, kulit juga menjadi cepat kering. Untuk itu, minum air yang cukup sangat dianjurkan.

"Takaran berapa jumlah air yang dianjurkan untuk diminum setiap hari tidak pasti buat setiap orang. Minimal dua liter sehari. Atau mengandalkan ’perhitungan’ alamiah saja, yakni rasa haus. Karena haus adalah sinyal dari tubuh kalau kita butuh banyak air," terang Sandra. Mungkin sesekali perlu juga menyemprotkan air ke wajah, agar kulit tetap lembap.

Dari dalam tubuh, Anda juga bisa melakukan pencegahan penuaan dini dengan membiasakan diri mengonsumsi makanan secara seimbang. Jangan lupa, menyantap makanan yang menghasilkan antioksidan. Cara ini terasa lebih murah dan ampuh ketimbang membeli produk atau obat-obatan yang mengandung antioksidan. Kecuali jika memang mendesak dibutuhkan.

Makanan penghasil antioksidan di antaranya sayuran, kacang-kacangan, jagung, kedelai, dan buah. Buat mereka yang lebih sering terkena radikal bebas, bila perlu, mengonsumsi suplemen obat atau antioksidan.

Saran lain, jangan makan daging terlalu banyak, karena akan membentuk oksidan yang banyak juga. Untuk kesehatan kulit lebih baik perbanyak konsumsi sayuran dan buah.

Satu lagi hal yang mungkin selama ini dianggap remeh - utamanya oleh lakki-laki - yakni memakai cairan pelembap kulit meskipun kulit masih terlihat sehat dan segar. Fungsi pelembap ini menghambat penguapan cairan dalam kulit. Contohnya, pelembap vaselline (bukan merek dagang) yang mengandung air untuk mengisi sel-sel kulit, membuat kulit tampak gembung dan lembap.

Perlu diingat, pelembap sebaiknya digunakan sesudah mandi. Pasalnya, kalau digunakan sebelum mandi, kulit masih tertutup kotoran. Sesudah mandi, kulit menjadi lembap karena air, kemudian baru dilapisi dengan pelembap. Hasilnya, cairan di dalam kulit tidak keluar, sehingga pelembap bisa mengisi sel-sel dengan air, serta gizi berupa minyak dan vitamin yang dikandung dalam pelembap itu. Secara kasat mata, kulit pun terlihat gembung, lembap, segar, dan bersinar cerah.

Pelembap yang baik tidak menutup pori-pori. Saat berkeringat, kulit tetap terbuka. Ia hanya berfungsi melapisi. Pemakaian tabir surya atau sunscreen juga perlu dilakukan, terutama pada saat sinar mentari sedang sangat menyengat.

Kini, ucapkan bye, bye pada penuaan dini. Biar kulit jeruk saja yang keriput. *

Apa Salahnya Doyan Daging?


Apa Salahnya Doyan Daging?

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, dokter umum

Doyan daging dan minuman manis, tapi gemar olahraga apa bisa bikin kolesterol tinggi dan diabetes? Begitu seorang ibu bertanya.

Kasus

"Dokter, suami saya termasuk orang yang gemar berolahraga. Satu minggu 3-4 kali olahraga sepakbola dan bulutangkis. Dia sangat gemar makan daging dan ikan, tapi tidak menyukai sayur dan jarang makan buah. Minumnya banyak, tapi selalu manis (sirop dan susu). Saya takut suami saya lama-lama akan kolesterol dan diabetes. Namun, tiap saya ingatkan, dia selalu berkata, tidak mungkin akan kolesterol karena dia sangat rajin olahraga jadi lemaknya akan terbakar pada saat olahraga. Yang ingin saya tanyakan, apakah benar lemak kolesterol akan stabil bila rajin olahraga?"

(Ny. Lin., Semarang)

Jawaban:

Ketahui Faktor Risiko

Ny. Lin. di Semarang,

  • Saya memahami kecemasan Anda sebagai istri, dan itu positif melihat zaman sekarang semakin muda saja orang terserang stroke dan jantung koroner.

Sikap waspada dan mempertimbangkan pilihan gaya hidup, bagian dari upaya preventif yang sehatnya dilakukan setiap orang yang hidupnya dalam jebakan serba otomatis seperti sekarang.

Menjawab kasus suami Anda yang hobi makan daging, ikan, serta minuman manis, tapi rajin berolahraga, perlu diperiksa bagaimana otobiografi menu hariannya sejak kecil, dan adakah faktor-faktor risiko yang dibawa dalam tubuhnya. Adakah juga faktor warisan darah tinggi, kegemukan, dan diabetes sendiri.

Apabila sejak kecil sel lemak tubuhnya sudah besar-besar dan banyak akibat menu hariannya berlebihan, punya turunan darah tinggi, dan atau diabetes, sejumlah faktor risiko itu sekarang mungkin telah membuat pembuluh darah tubuhnya mulai berkarat lemak (aterosklerosis). Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki tubuhnya, semakin buruk kondisi pembuluh darahnya sekarang. Sebaliknya, bila faktor risiko itu sedikit atau nyaris tak ada, semakin sedikit kerak dan karat lemak pada dinding pembuluh darah yang mungkin sudah melengket pada pembuluh koroner jantung, otak, ginjal, atau matanya.

Di negara maju, sebut saja Amerika Serikat, pembuluh darah rata-rata remajanya sudah mulai berkarat. Diperkirakan ketebalan karat lemak pipa pembuluh itu bertambah sekitar 2 persen setiap tahun jika faktor risiko yang dimilikinya dibiarkan tak terkendali, seperti tetap makan berlebihan dengan menu berlemak tinggi, kurang gerak, dan masih diperberat oleh stressor fisik maupun jiwa.

Benar, dengan berolahraga sebagian kalori yang kita peroleh dan makanan akan dibakar. Tergantung seberapa besar porsi olahraga kita, sebesar itu pula kalori, yang dibakar. Termasuk akan membakar pula kelebihan deposit gajih di bawah kulit jika olahraga atau gerak badan sampai melampaui jumlah kalori yang kita konsumsi.

Meski demikian, olahraga, gerak badan, dan aktivitas fisik tidak akan mengurangi karat lemak aterosklerosis yang sudah telanjur terbentuk pada dinding pembuluh darah. Berolahraga atau kegiatan fisik memang bisa menurunkan lemak darah (lipid: kolesterol, trigliserida, asam lemak bebas), sehingga pembentukan karat lemak pada pembuluh darah tidak berlanjut.

Namun, karat lemak yang sudah terbentuk tidak akan luruh dengan aktivitas fisik. Aterosklerosis yang baru akan kembali terbentuk bila sewaktu-waktu kadar lipid darah kembali meninggi, dan demikian seterusnya sepanjang hidup.

Status Gizi

  • Kembali ke kasus suami Anda, perlu diketahui seperti apa status gizi suami sekarang?

Jika ia berbakat gemuk, dan total kalori harian yang dikonsumsi setelah dipotong aktivitas fisik (terutama dari karbohidrat, termasuk gula) ternyata masih melebihi kebutuhan harian tubuh, maka akan tetap membentuk deposit gajih.

Jika ada bakat kolesterol (turunan), kelebihan kalorinya bukan saja menjadi gajih, tapi akan mengalir dalam darah sebagai hyperlipidemia (bisa kolesterol saja, trigliserida saja, atau keduanya yang meninggi dalam darah).

Namun, tidak setiap orang yang kelebihan mengonsumsi lemak dan manis-manis, tentu lemak darahnya akan melebihi normal. Tergantung “dapur” metabolisme tubuhnya. Jika tidak berbakat hyperlipidemia atau hyperlipoproteinemia, ya kadar lipid darahnya tetap saja tidak tinggi. Sebaliknya bagi yang berbakat hyperlipidemia, kendati konsumsi kalori (lemak, gula) rendah saja, lipid darahnya bisa saja melebihi normal.

Amati saja, apakah dengan pola kegiatan dan pola menu harian yang sudah berlangsung rutin itu, kian bertambahkah berat badan suami Anda? Jika ya, berarti kalori yang dikonsumsi dalam menu harian melebihi yang dibakar. Untuk itu agar stabil berat badannya, porsi menunya dikurangi atau aktivitas fisiknya yang ditambah.

Namun, itu saja belum cukup. Periksa kadar lipid dan gula darahnya juga. Bila ternyata tidak meninggi, berarti aman, dengan catatan pola dan porsi aktivitas hariannya harus tetap dipertahankan demikian.

Jika ternyata aktivitas hariannya berkurang, agar stabil, porsi menu hariannya pun perlu dikurangi. Begitu pula jika aktivitas fisik hariannya bertambah, porsi menunya pun perlu ditambah pula.

Itu saja pun belum cukup. Selain kecukupan kalori, tubuh juga membutuhkan kecukupan vitamin dan mineral dalam takaran yang memadai.
Vitamin dan mineral yang jumlahnya 40-an jenis itu dan tubuh perlukan setiap hari diperoleh dari sayur-mayur dan bebuahan segar.

Namun, kita tahu, kualitas sayur mayur dan bebuahan kita zaman sekarang tidaklah sesehat zaman dulu. Cara panen, cara simpan, dan distribusi, selain kualitas lapisan tanah atas (topsoil) bumi sudah tidak selengkap produksi dulu, menambah rendah kualitas bahan makanan bersumber vitamin-mineral kita.

ltu berarti kendati kita cukup mengonsumsi sayur dan buah setiap hari, belum tentu kecukupan tubuh akan vitamin dan mineral harian terpenuhi. Belum lagi kalau cara menyiangi, cara olah, cara menyajikannya tidak memenuhi syarat gizi sehingga tidak seluruh kandungan nutrisi dalam bahan makanan tersebut berhasil tubuh manfaatkan. Seperti itu agaknya nasib menu rata-rata orang modern.

4-5 Variasi Menu

  • Kecukupan tubuh orang modern akan seluruh kebutuhan zat gizinya bertambah kritis lagi apabila menu hariannya kurang bervariasi.

Untuk memenuhi kecukupan ragam nutrisi yang 40-an jenis itu meja makan kita memerlukan sedikitnya 4-5 variasi menu setiap kali saji.

Harus diakui kalau menu harian orang modern yang hidupnya serba instan dan dikejar waktu, dan untuk memilih praktisnya sehingga cenderung bermenu seketemunya yang itu-itu saja lagi (monodiet). Kalau bukan
soto, ya, gado-gado, atau nasi padang.

Dalam menu harian yang bolak-balik seperti itu saja diperkirakan tidak semua zat gizi yang tubuh butuhkan terpenuhi. Itu sebab acap disebut-sebut, orang modern, yang kelihatannya saja gemuk dan tambun, kalau diperiksa ternyata tetap kekurangan gizi. Sebut saja kemungkinan kekurangan Zn, selenium, chromium, bahkan vitamin C, dan kalsium sebagaimana banyak terungkap pada sebagian besar populasi Amerika.

Melihat kebiasaan suami Anda yang ogah makan sayur dan tanpa buah (yang sedikitnya perlu 5 porsi dalam sehari) pula, saya kira jika darahnya diperiksa, dan rambutnya dianalisis (hair analysis), tentu ada zat gizi yang kurang dalam tubuhnya yang belum tentu sudah menimbulkan keluhan atau gangguan yang terasakan atau bermanifestasi. Dunia medis sudah mencatat sekian banyak ancaman gangguan pada organ tubuh jika sampai kekurangan zat nutrisi yang vital tubuh butuhkan, termasuk vitamin dan trace-elements, zat esensial, yang cuma dibutuhkan dalam takaran yang amat kecil (mikrogram), tapi vital bagi tubuh.

Daripada bingung harus bagaimana, saya kira, bila suami Anda masih juga susah mengonsumsi sayur-mayur dan bebuahan, tidak salah jika mulai rutin mengonsumsi esktra suplemen multivitamin (boleh pilih merek apa saja asal lengkap). Dengan berolahraga berat (sepakbola dan bulutangkis), berarti fungsi otot tubuhnya sangat terperas. Padahal, selain kalori, fungsi otot juga memerlukan beragam pula kebutuhan aneka vitamin maupun mineral. Keluhan gampang kram, atau kejang kaku, bisa jadi sebab kebutuhan otot akan vitamin dan mineral yang tidak tercukupi.

Yang perlu Anda lakukan kini jika belum mengenal profil lemak darah suami Anda, periksalah sekarang, termasuk gula darahnya. Jika ternyata masih dalam batas normal, tak perlu cemas sekalipun tetap doyan makan daging, ikan, serta minuman manis.

Selama berat badannya terkontrol ideal (
ideal bodyweight), yakni berat badan (Kg) dibagi tinggi badan (meter) pangkat dua = menghasilkan indeks antara 20-25. Lebih dari 25 berarti mulai kegemukan, dan bila kurang dari 20 berarti kelewat kerempeng.

Bersyukur punya suami yang masih rajin berolahraga. Karena hanya dengan cara itu, orang kota yang kecukupan pangannya sudah terpenuhi, masih bisa bertahan hidup bugar. Sebagai suami ia boleh saja seperti harimau, atau kucing.

Untuk lebih lengkapnya
ia juga harus doyan makan kacang-kacangan seperti orang Italia. Perkara ia suka yang manis-manis, selama masih sebatas seperti semut, tak perlulah Anda risau. Bukan sebab kebanyakan manis orang jadi kencing manis. Namun, jika kesukaan manis-manis sudah berubah lebih dari perangai semut, itulah yang mesti Anda sebagai istri waspadai. Umpama kata ia mulai terpikat manisnya rumput tetangga.

Maaf cuma bercanda. Salam. @

Stop Makan Sebelum Kenyang!


Stop Makan Sebelum Kenyang!

Oleh: Dr.Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Banyak yang tanya, selain jenis makanan, apa yang salah dengan keputusan ingin menikmati sebanyak mungkin makanan?

Semakin banyak pilihan menu modern yang lezat-lezat sekarang ini, cenderung semakin besar porsi makan kita.

Namun sebuah riset menemukan, dengan porsi makan lebih rendah, harapan hidup bisa meningkat duaperlima .

Benar! Semua orang ingin menikmati hidup yang lebih panjang. Banyak upaya dicari untuk menuju ke sana. Salah satunya dari sikap makan.

Tubuh kita merupakan otobiografi dari apa yang kita makan. Rakus dan banyak makan menyimpan banyak penyakit. Sedang dengan membiasakan sedikit makan bisa merentang umur lebih panjang.

Boleh jadi banyak makan juga berarti lebih banyak racun dalam menu masuk ke dalam tubuh. Dari dulu banyak bahan-bahan berbahaya ditemukan dalam menu harian kita.

Kebanyakan menu modern kini kedapatan mengandung racun yang merusak sel-sel tubuh. Baru-baru ini racun dioxin diketahui terdapat dalam semua jenis menu berlemak, misalnya. Kini diteliti di banyak negara bahaya dioxin dalam menu siap-saji yang dijual kepada publik. Dioxin dinyatakan WHO sebagai pencetus kanker selain merusak sistem saraf, hati, dan hormon reproduksi.

Bahaya Dioxin

  • Dua studi di Inggris menyimpulkan bahwa dioxin dan zat yang menyerupai (dioxins-like substances), seperi PCB dan Furans masuk ke dalam makanan, tertinggi ada dalam lemak, dan rendah dalam menu rendah lemak (sayur dan buah).

Rice-oil di Jepang dan Taiwan sudah tercemar PCB dan Furans sejak 1960, itu yang menjadi penyebab kematian akibat kanker, infeksi paru-paru, gangguan saraf di sana terbilang tinggi.

Setiap orang di kebanyakan negara industri, 96 persen darahnya mengandung dioxin yang mencemari menu hariannya. Es krim, dan ikan di restoran ayam goreng AS, atau contoh makanan yang diambil dari restoran siap-saji di AS hampir semua mengandung dioxin. Terhadap ’Pepperoni pizza’, misalnya, Badan Pengawasan Obat AS (FDA) memonitor keju yang dipakai yang dicurigai tinggi kandungan dioxin-nya.

Bayi dan anak paling rentan terhadap efek dioxin. Munculnya bayi cacat lahir, gangguan belajar, dan gangguan perkembangan lain berkorelasi dengan dioxin yang diduga berasal dari air susu ibu.

Bayi-bayi AS yang 6 bulan menyusu ASI rata-rata mengonsumsi dioxin, sebab lemak ASI tercemar dioxin akibat konsumsi menu harian ibu sudah tercemar dioxin. Dioxin kebanyakan masuk ke dalam menu siap-saji, daging, ikan, dan produk susu.

Dioxin itu produk sisa jika sampah berbahaya kota dibakar, atau berasal dari zat chlorine, seperti pestisida dan produk kertas. Sekali hewan-hewan ternak makan zat kimiawi berbahaya tersebut, racun akan diakumulasi dalam lemak gajihnya. Manusia tercemar racun jika mengonsumsi gajih ternak yang sudah tercemar racun tersebut.

Bukan saja di negara maju, studi dioxin juga menunjukkan hasil positif di Vietnam, Rusia, Cina, Kamboja, dan Timur Tengah. Burung penguin di Artartika, hujan di Asia Tenggara, sampai susu bayi di Jerman, positif kandungan zat-zat berbahaya (synthetic chemicals).

Racun Acrylamide

  • Hal baru lainnya, bahwa keripik kentang (potato chip) dan kentang goreng, dua jenis makanan yang mulai ditakuti sekarang sebab mengandung acrylamide yang tergolong zat pencetus kanker (cancer causing-substances).

Periset Swedia menemukan dalam kebanyakan camilan dengan karbohidrat tinggi yang dibakar atau digoreng dengan suhu tinggi bersifat pencetus kanker (carcinogenic). Yang sama bisa berasal dari masakan tradisional.

Zat acrylamide bahan pembuat plastik dan pewarna selain pemurni air minum. Itu sebab bahaya kemasan plastik (sterofom) untuk masakan panas (soto, bakmi, masakan Cina restoran yang dikemas semasih panas). Dalam kentang terdapat asparagine yang jika dipanaskan dengan suhu tinggi berubah menjadi acrylamide, sang pencetus kanker itu.

Bagi penganut Orthomolecular Medicine, banyak menu orang modern yang mengandung bahan kimia buatan (man-made chemicals), yang sebagian besar berbahaya. Bahan kimia dalam makanan, baik yang berbahaya maupun yang belum kedapatan berbahaya, selain merusak, juga bisa mengganggu, dan mengacaukan fungsi sel tubuh. Sel-sel tubuh kita merupakan ’dapur’ pengolah mesin tubuh.

Dapur mesin tubuh jadi kacau kerjanya jika dicemari berbagai bahan berbahaya yang dibawa makanan. Selain kemungkinan kekurangan atau kelebihan zat-zat makanan yang dibutuhkan, sel juga kewalahan menampung cemaran dari bahan-bahan asing bagi tubuh yang dibawa oleh makanan, antara lain oleh dioxin, acrylamide, dan racun-racun kimia lainnya dalam makanan modern.

Jangan berpikir hanya menu modern yang berisiko merusak sel tubuh kita. Di kita, jenis saus tomat, sambal, kecap, tahu, penganan industri rumahan, baru-baru ini (sesungguhnya sudah sejak lama ada) kedapatan memakai zat warna tekstil (Rhodamine-B), pengawet formalin, pemanis sakarin, yang sama-sama membahayakan kesehatan juga.

Bahkan ikan asin yang dianggap menu sederhana dan dianggap aman pun sebetulnya mengandung nitrosamin, zat pencetus kanker juga. Orang kecukupan yang bermenu resotran dan orang papa, kini sama-sama memikul risiko yang sama-sama bisa tercemar bahan berbahaya dari menu hariannya.

Stop Makan Sebelum Kenyang

  • Kembali soal makan dengan porsi lebih sedikit. Stewart Frankel periset dari Universitas Yale (28/11/02) menyimpulkan dari hasil temuannya terhadap berbagai kapang, cacing, serangga, dan mamalia.

Diketahui, dengan porsi makan yang lebih sedikit akan mengoptimalkan umur (life-span) 33 sampai 50 persen dibanding yang rakus makan. Diduga demikian halnya pada manusia.

Ada dua gen kunci yang menentukan umur bisa direntang lebih optimal, yakni penghasil enzim Rpd3 (Histone deacetylase), dan Sir2. Kadar Rpd3 yang rendah dan Sir2 yang tinggi menentukan bisa lebih optimalnya umur seseorang direntangkan. Oleh karena makan banyak meninggikan Rpd3 yang bikin umur tidak bisa panjang optimal, maka agar umur merentang lebih panjang kadar Rpd3 diturunkan dengan mengurangi porsi makan.

Orang bisa tidak perlu mengurangi porsi makannya jika berhasil menurunkan kadar enzim Rpd3. Untuk itu sedang diteliti terus hadirnya obat yang bisa menekan enzim Rpd3 dalam badan. Kini sedang diteliti kemungkinan Phenylbutyrate menekan enzim Rpd3, sehingga orang masih mungkin mengoptimalkan panjang umurnya, sambil masih bisa tetap rakus.

Selama obat pengoptimal umur belum ada, agar umur kita bisa direntang optimal, pilihannya cuma satu: stop makan sebelum kenyang, tidak lapar mata, atau punya hobi doyan ditraktir, dan kepingin makan terus kendati tidak sedang lapar. @