Sabtu, 10 November 2007

Stroke

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi bio-kimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa (Jauch, 2005). Bila dapat diselamatkan, kadang-kadang si penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, hilangnya sebagian ingatan atau kemampuan bicaranya. Untuk menggarisbawahi betapa seriusnya stroke ini, beberapa tahun belakangan ini telah semakin populer istilah serangan otak. Istilah ini berpadanan dengan istilah yang sudah dikenal luas, "serangan jantung". stroke terjadi karena cabang pembuluh darah terhambat oleh emboli. emboli bisa berupa kolesterol atau mungkin udara

Jenis Stroke
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemorragik. Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini.
Pada stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi pada penderita hipertensi.
Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung.
Suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.
Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).
Emboli lemak jarang menyebabkan stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri.
Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke.
Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

Stroke is a cause of poverty and is caused by poverty. Stroke prevention, along with the prevention of other chronic (noncommunicable) diseases, is a grossly neglected feature of the global development agenda,1 despite the huge economic and health burdens due to stroke. The reasons for this neglect are complex. They include a series of myths which have perpetuated the mistaken notion that stroke and chronic diseases in general are primarily problems of wealthy countries and which do not require serious government intervention. Nothing is further from the truth. A serious and balanced global health development agenda should include all key health issues, not just those which have a historical precedence.2
Stroke is the third leading cause of death, responsible for 5.7 million deaths each year, the vast majority of which occur in low-income and middle-income countries.3 Stroke rates in middle-aged people (30 to 69 years) are 5 to 10 times higher in large countries such as Russia, India, China, Pakistan and Brazil, compared with the United Kingdom or the United States.3 Projections suggest that, without intervention, the number of deaths from stroke will rise to 6.3 million in 2015 and 7.8 million by 2030 with the vast bulk in poor countries.3,4
The article on stroke in India in this issue of Stroke5 illustrates the key challenges to be addressed in the global prevention and control of stroke. First, stroke is becoming an even more important cause of premature death and disability in low-income and middle-income countries, largely driven by demographic changes (increased size and the ageing of populations) and enhanced by the increasing prevalence of the key modifiable risk factors, especially in urban populations. Second, the poor are increasingly affected by stroke, both because of the changing population exposures to risk factors and, most tragically, because of the high costs of care. Because the majority of survivors of an acute event continue to live with disabilities, the costs of ongoing rehabilitation and care, largely undertaken by family members, will further impoverish families.
The staggering costs of rtPA in India and other poor countries is scandalous; this is particularly ironic because India is the home of a thriving generic drug industry. Over three quarters of the costs of care for the patient described in scenario 1 by Pandian et al was for rtPA which should be administered in the context of a stroke unit.5 It is no wonder that poor people cannot afford modern therapies even where appropriate facilities are available. Even aspirin, although relatively cheap and readily available, is not routinely administered in low-income and middle-income countries.6 There is an urgent need to further explore the effectiveness of a cheap combination pill for people at high risk of cardiovascular disease.
As Pandian et al note, given the particular health and development problems in India and other low-income and middle-income countries, the way forward is to ensure much more emphasis on the prevention of stroke in the first place. There is sufficient information available on the importance of the main risk factors to guide action. The significance of these risk factors is the same in all countries and all subpopulations even if the chronic disease rates are higher in some populations due to their risk factor exposures.7
WHO has proposed a global goal, additional to the Millennium Development Goals, which aims to reduce chronic disease death rates by an additional 2% per year over current trends.8 The goal, if reached, would avert 36 million chronic disease deaths by 2015, of which about one sixth (6.5 million) would be due to stroke.3 These averted deaths would result in substantial economic savings. The Lancet chronic disease prevention initiative will be presenting evidence in December 2007 on the health impacts and costs of a small number of population-wide and individual level interventions directed toward achievement of the global goal.9
Improved information on stroke incidence and mortality is a key challenge in all countries. In an effort to assist low-income and middle-income countries to get started in establishing surveillance systems for stroke, WHO recommends a stepwise approach (STEPS Stroke) through the use of standardized tools and methods for ongoing core, expanded, and optional data collection.10 Four Indian sites, supported by WHO South East Asian Region and the Indian Medical Council, were included in a test of the feasibility of this approach in low-income and middle-income countries.11
WHO has also proposed a stepwise approach to chronic disease prevention and control which builds on the experience in the Western Pacific Region.12 The main principle of this approach is a phased implementation of interventions—core, expanded and optimal—based on the availability of resources and political and community support.
There is some cause for optimism. There is increasing involvement of international stroke nongovernmental organizations. The World Stroke Organization incorporating the International Stroke Society, the World Stroke Federation and the World Federation of Neurology is supporting a greater emphasis on stroke surveillance and prevention in poorer regions. In India, the pilot phase of an integrated program for the prevention and control of diabetes mellitus, cardiovascular disease and stroke has begun.13,14 For this optimism to be realized, however, a serious scaling up of the response to stroke and other chronic diseases is urgently required in all low-income and middle-income countries. Until this is achieved, the health and economic consequences of stroke will continue to devastate the poor.

Kamis, 08 November 2007

Dengan Pengobatan Rutin, Epilepsi pada Anak Dapat sembuh Total

Dengan Pengobatan Rutin, Epilepsi pada Anak Dapat sembuh Total
-->
Penyandang epilepsi akan mengalami kejang secara spontan tanpa sebab sebagai gejalanya. Selain itu, ada pula yang disertai sebab ringan seperti kurang tidur, capek, melihat sesuatu yang berkedip-kedip, dan lain-lain. Pada anak, jenis bangkitan kejang sangat bermacam-macam, dapat berbentuk kejang kaku dan kejang kelojotan yang disertai mulut berbusa atau tidak. Bentuk yang lain berupa serangan bengong, kaget-kaget, jatuh-jatuh, atau mengecap-ngecap. Keprihatinan yang mendalam akan dirasakan semua orang jika melihat bayi berusia tiga bulan yang kejang-kejang karena epilepsi.
Namun, sangat disayangkan masyarakat sudah terlanjur mempunyai persepsi buruk tentang penyakit ini. Persepsi buruk yang dimaksud di antaranya menyatakan bahwa epilepsi merupakan penyakit keturunan, menular, dan tidak dapat disembuhkan. Padahal, dengan pengobatan yang rutin, anak penyandang epilepsi dapat sembuh secara total. Demikian kesimpulan yang didapat dari kegiatan Press Up-date dengan tema "Epilepsi pada Anak" yang diselenggarakan oleh Janssen Pharmaceutica pada 6 Juni 2001. Pada acara yang diikuti wartawan media cetak dan elektronik tersebut, hadir sebagai pembicara Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) dan Dr. Irawan Mangunatmadja, SpA.
Penyebab epilepsi pada anak, menurut Hardiono, sebagian besar tidak diketahui. Namun demikian, faktor lain yang menyebabkan timbulnya penyakit ini yaitu adanya kerusakan kecil atau besar pada otak. Kerusakan ini dapat disebabkan perdarahan, tumor, infeksi otak, kelainan bawaan, dan lain-lain. Dari seluruh kasus epilepsi, 60% di antaranya tidak diketahui penyebabnya, sedangkan pada anak yang berumur < 10 tahun sebanyak 80% tidak diketahui penyebabnya. Berdasarkan fakta tersebut, berarti sebanyak 360 ribu kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya jika dihitung berdasarkan prevalensi epilepsi di Indonesia yang berjumlah 600 ribu penderita. Di RSCM sendiri, menurut dokter spesialis anak yang juga berpraktek di Klinik Anakku, ini terdapat 175--200 kasus baru per tahun. Dengan berkembangnya teknologi kedokteran diharapkan epilepsi yang tidak diketahui penyebabnya semakin berkurang.
Sindrom epilepsi yang terjadi pada anak banyak jenisnya, di antaranya Ohtahara, Spasme Infantil, Lennox-Gastaut, dan lain-lain. Sindrom Ohtahara terjadi pada bayi berusia 0--3 bulan dengan gejala munculnya gerakan aneh yang berulang-ulang. Gejala ini memang sangat tidak khas karena bayi baru lahir sulit dikenali gerakannya. Namun, dengan observasi yang teliti dapat ditentukan gerakan tersebut kelainan atau bukan. Jika masih tidak dapat ditentukan, EEG dapat dilakukan untuk memastikannya.
Selain sindrom Ohtahara, pada bayi terutama yang berusia 3--12 bulan, dapat terjadi Spasme Infantil atau dikenal juga dengan Sindrom West. Sindroma ini ditandai dengan kejang yang dialami bayi menjelang tidur, munculnya berulang-ulang, dan berbunyi. Bayi yang mengalami spasme ini hasil EEG-nya sangat buruk. Selain itu, kejang-kejang yang sering dialaminya dapat mengakibatkan retardasi mental. Sindrom Lennox-Gastaut juga dapat dialami oleh bayi, terutama yang berusia di atas 1 tahun. Sindrom ini meliputi semua jenis bangkitan kejang seperti Atonik (jatuh-jatuh), Tonik (kejang umum), Tonik-Klonik (kejang disertai jatuh), Mioklonik, dan Absence (serangan bengong). Prognosis sindrom ini sangat buruk dan hampir 100% penderita mengalami retardasi mental.
Hal yang terpenting menurut dokter yang juga pengurus Yayasan Autisme Indonesia, ini adalah bahwa epilepsi dapat disembuhkan dengan pengobatan yang kontinyu. Untuk pasien yang akan menjalani pengobatan, harus dipastikan dahulu bahwa ia benar-benar menyandang epilepsi. Dengan diagnosis yang benar, misalnya dengan pemeriksaan EEG, dapat dipastikan bahwa seseorang menyandang epilepsi. Penyandang epilepsi yang tengah menjalani pengobatan sedapat mungkin hanya menggunakan satu jenis obat. Obat yang dipakai pun harus diminum dengan teratur, sebab jika pemakaian obat dihentikan dengan tiba-tiba maka akan menimbulkan serangan yang hebat. Pengobatan yang tengah dijalani harus diberikan secara rutin selama 2--3 tahun dan pada beberapa kasus diberikan seumur hidup.
Penyandang epilepsi yang telah menjalani pengobatan 60--80%, bebas serangan selama 3 tahun tanpa kekambuhan walaupun pengobatan dihentikan. Sebagian kecil penyandang bebas serangan, tetapi harus tetap minum obat. Hanya 2--5% penyandang epilepsi yang serangannya sulit diatasi walaupun dengan beberapa obat (intraktabel epilepsi). Pernyataan di atas merupakan harapan yang menggembirakan bagi keluarga yang salah satu anggotanya menyandang epilepsi. Selain itu, Irawan menyebutkan bahwa alternatif terakhir untuk mengobati epilepsi adalah dengan mengoperasi bagian sel saraf yang sering menimbulkan kejang. Hanya saja, setelah operasi ada bagian tubuh yang tidak dapat berfungsi karena sarafnya telah terpotong. Di Semarang telah berhasil dilakukan sepuluh operasi otak untuk pengobatan epilepsi. (Hidayati W.B.)

Epilepsi

Epilepsi
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Epilepsi, berasal dari bahasa Yunani (Epilepsia) yang berarti 'serangan'। Perlu diketahui, epilepsi tidak menular, bukan penyakit keturunan, dan tidak identik dengan orang yang mengalami ketebelakangan mental. Bahkan, banyak penderita epilepsi yang menderita epilepsi tanpa diketahui penyebabnya.
Penyebab Epilepsi
Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf (neuron), yang bertugas mengoordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan, berpikir, menggerakkan otot. Pada penderita epilepsi, terkadang sinyal-sinyal listrik tersebut, tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain; trauma kepala (pernah mengalami cedera didaerah kepala), tumor otak, dan lain sebagainya।
दिअग्नोसिस
Hippocrates adalah orang pertama yang berhasil mengidentifikasi gejala epilepsi sebagai masalah pada otak, roh jahat, dan sebagainya. Seseorang dapat dinyatakan menderita epilepsi jika orang tersebut telah setidaknya mengalami kejang yang bukan disebabkan karena alkohol dan tekanan darah yang sangat rendah. Alat bantu yang digunakan biasanya adalah:
MRI (Magnetic resonance imaging) Menggunakan magnet yang sangat kuat untuk mendapatkn gambaran dalam tubuh/ otak seseorang. Tidak menggunakan X-Ray. MRI lebih sensitif dripada CT-Scan.
EEG (electroencephalography) alat untuk mengecek gelombang otak।
पेंगोबतन
Berikut ini adalah nama-nama obat yang dipakai untuk menyembuhkan epilepsi. Semua obat harus dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter.
Carbamazepine, Carbatrol, Clobazam, Clonazepam, Depakene, Depakote, Depakote ER, Diastat, Dilantin, Felbatol, Frisium, Gabapentin, Gabitril, Keppra, Klonopin, Lamictal, Lyrica, Mysoline, Neurontin, Phenobarbital, Phenytek, Phenytoin, Sabril, Tegretol, Tegretol XR, Topamax, Trileptal, Valproic Acid, Zarontin, Zonegran, Zonisamide.
Selain dengan obat, epilepsi juga dapat disembuhkan dengan Ketogenic Diet
Orang-orang terkenal dengan एपिलेपसी
Epilepsi tidak identik dengan orang yang mengalami keterbelakangan mental. Berikut ini adalah beberapa dari sekian banyak orang ternama yang menderita epilepsi.
Penulis: Dante, Moliere, Sir Walter Scott, Edgar Allan Poe, Lord Byron, Percy Bysshe Shelley, Alfred Lord Tennyson, Charles Dickens, Lewis Carroll, Fyodor Dostoevsky, Gustave Flaubert, Leo Tolstoy, Agatha Christie, Truman Capote.
Pemimpin Dunia: Alexander Agung, raja Makedonia, Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, Harriet Tubman.
Olahragawan: Marion Clignet, Buddy Bell, Bobby Jones.
Ilmuwan: Isaac Newton, Alfred Nobel.
Tokoh Religius: Santo Paulus, Jeanne d'Arc, Søren Kierkegaard.
Komponis: George Frederick Handel, Niccolo Paganini, Peter Tchaikovsky, Ludwig van Beethoven.
Aktor: Richard Burton, Michael Wilding, Margaux Hemingway dan Danny Glover

Welcome to the No-Fad Diet

Welcome to the No-Fad Diet




Get ordering information
You may have tried several times before to lose weight, but without much long-term success. That’s no reason to feel bad about yourself — losing weight is not easy. No magic formula will trim away extra pounds and keep them off. Gimmicks and get-thin-quick schemes don’t work. That’s why, over the long haul, fad diets are not the answer.

We aren’t offering any magic either — quite the opposite. Instead, we offer you the tools you need to personalize a weight-loss plan to fit your lifestyle. You can design your own approach using three key concepts, or what
we call the Circles of Success.


To lose weight effectively, you need to set realistic goals and create a personal action plan. Your planning should focus on you, your commitment to yourself, and the three essential circles — think smart, eat well and move more. These circles will overlap as you work toward your goals, and you will need to embrace all three to achieve successful weight control for life.

Because your choices are tailored to reflect your individual needs, the actions you take to follow through will be suited to become part of your new life. It won’t happen overnight, but if you persist, it will happen! Any step you take in the right direction — no matter how small — moves you closer to your weight-loss goals and a healthier life.


“Let this book be your guide and the American Heart Association be your partner on your journey to losing weight — and keeping if off — realistically, healthfully, and successfully for years to come. Do it for you, and encourage those you love to join you. Years of added life may well be the outcome!”
—Robert H. Eckel, M.D.
President, American Heart Association, 2005–06

Our 2006 Diet and Lifestyle Recommendations

cook

A healthy diet and lifestyle are the best weapons you have to fight cardiovascular disease. It’s not as hard as you may think! Remember, it is the overall pattern of the choices you make that counts.

Make the simple steps below part of your life for long-term benefits to your health and your heart.


Use up at least as many calories as you take in.

Start by knowing how many calories you should be eating and drinking to maintain your weight. Don’t eat more calories than you know you can burn up every day. Increase the amount and intensity of your physical activity to match the number of calories you take in. Aim for at least 30 minutes of moderate physical activity on most days of the week or — best of all — at least 30 minutes every day. Regular physical activity can help you maintain your weight, keep off weight that you lose and help you reach physical and cardiovascular fitness. If you can’t do at least 30 minutes at one time, you can add up 10-minute sessions throughout the day. more

Eat a variety of nutritious foods from all the food groups.


woman shopping

You may be eating plenty of food, but your body may not be getting the nutrients it needs to be healthy. Nutrient-rich foods have vitamins, minerals, fiber and other nutrients but are lower in calories. To get the nutrients you need, choose foods like vegetables, fruits, whole-grain products and fat-free or low-fat dairy products most often. more

  • Vegetables and fruits are high in vitamins, minerals and fiber — and they’re low in calories. Eating a variety of fruits and vegetables may help you control your weight and your blood pressure.
  • Unrefined whole-grain foods contain fiber that can help lower your blood cholesterol and help you feel full, which may help you manage your weight.
  • Eat fish at least twice a week. Recent research shows that eating oily fish containing omega-3 fatty acids (for example, salmon, trout, and herring) may help lower your risk of death from coronary artery disease.

Eat less of the nutrient-poor foods.

There is a right number of calories to eat each day based on your age and physical activity level and whether you are trying to gain, lose or maintain your weight. You could use your daily allotment of calories on a few high-calorie foods and beverages, but you probably wouldn’t get the nutrients your body needs to be healthy. Limit foods and beverages that are high in calories but low in nutrients, and limit how much saturated fat, trans fat, cholesterol, and sodium you eat. Read labels carefully — the Nutrition Facts panel will tell you how much of those nutrients each food or beverage contains.

As you make daily food choices, base your eating pattern on these recommendations:

  • Choose lean meats and poultry without skin and prepare them without added saturated and trans fat.
  • Select fat-free, 1 percent fat, and low-fat dairy products.
  • Cut back on foods containing partially hydrogenated vegetable oils to reduce trans fat in your diet.
  • Cut back on foods high in dietary cholesterol. Aim to eat less than 300 milligrams of cholesterol each day.
  • Cut back on beverages and foods with added sugars.
  • Choose and prepare foods with little or no salt. Aim to eat less than 2,300 milligrams of sodium per day.
  • If you drink alcohol, drink in moderation. That means one drink per day if you’re a woman and two drinks per day if you’re a man.
  • Follow the American Heart Association recommendations when you eat out, and keep an eye on your portion sizes.

Also, don’t smoke tobacco — and stay away from tobacco smoke. more

For more information on the 2006 American Heart Association Diet and Lifestyle Recommendations. . .

  • Download our podcast.
  • Read the news release.
  • Read the scientific statement in the American Heart Association journal, Circulation.
  • Call 1-800-AHA-USA1 to order a free consumer-friendly brochure.

7 Rahasia Tetap Awet Muda


7 Rahasia Tetap Awet Muda

Banyak orang yang mengeluhkan keadaan kulit dan wajah mereka yang tampak lebih tua daripada umur sebenarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, ada 7 rahasia agar Anda tetap tampak awet muda:

1.Selalu merasa bahagia

Merasa bahagia adalah salah satu kunci utama agar tetap ter
lihat awet muda. Dalam setiap kegiatan, usahakan agar apa yang Anda lakukan sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Hindari stres, perasaan bersalah dan tertekan karena paksaan orang lain. Ingat, apa yang Anda rasakan akan tercermin pada wajah Anda. Jadi, orang yang sedang bahagia, wajahnya akan terlihat berseri-seri, santai dan lebih muda daripada usia sebenarnya.

2.Banyak bergerak

Berolahraga adalah cara agar awet muda. Lakukan joging, jalan cepat, bersepeda maupun berenang sekitar 30 menit setiap hari. Dengan olahraga, risiko terkena serangan jantung, osteoporosis, dan kanker pun akan mengecil. Olahraga teratur dapat menambah fleksibilitas otot, memperkuat tulang, serta mengurangi stres, karena sel-sel tubuh mendapat lebih banyak oksigen. Tidur Anda pun akan nyenyak.

3.Konsumsi vitamin C

Vitamin C bisa Anda peroleh dari buah-buahan segar (terutama jeruk), sayur-mayur berwarna hijau (brokoli dan lain-lain) atau suplemen vitamin C sebanyak 1000 mg perhari. Vitamin C terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi risiko terkena kanker dan melindungi tubuh dari efek yang ditimbulkan oleh polusi. Di samping itu, perbanyak minum air putih. Meminum air putih 8 gelas per hari akan mengurangi stres, menjaga kesegaran kulit, serta memperlancar kerja organ tubuh.

4.Gunakan pelindung UV

Matahari adalah salah satu faktor utama penyebab penuaan dini. Oleh karena itu, gunakan selalu lotion pelembab secara teratur setiap hari, khususnya bila akan bepergian, agar kulit tetap segar, lembab dan tidak terbakar sinar matahari, terutama sinar ultra violet (UV).

5.Istirahat cukup

Manusia butuh sekurang-kurangnya 8 jam setiap hari untuk tidur. Istirahat cukup bermanfaat untuk menghindari terbentuknya kantung mata, kulit keriput dan wajah kusam.

6.Perhatikan penampilan

Penampilan dan tata rias wajah juga memegang peranan penting. Meski usia terus bertambah, tetap perhatikan jenis kosmetik yang Anda pakai. Gunakan make-up tipis untuk kesan natural dengan tetap memperhatikan kondisi dan jenis kulit Anda.

7.Optimis

Orang yang pesimis selalu tidak percaya diri, gampang putus asa, dan tak pernah memperhatikan penampilan, yang bisa berakibat depresi. Jadi, berusahalah menjadi orang yang optimis dalam segala hal, sebab ini akan membuat hidup Anda akan lebih sehat dan bahagia. (Tabloid Nova)

Makanlah dengan "Otak", Bukan dengan Emosi!

Makanlah dengan "Otak", Bukan dengan Emosi!

Oleh Dr. Handrawan Nadesul

Bagaimana bisa tahu kalau yang kita makan itu tidak berlebihan? Dengan rutin menimbang berat badan!

Seperti balita ditimbang di posyandu, kita pun yang harus selalu mawas dengan pertambahan berat badan, perlu menimbang setiap bangun tidur pagi. Berat badan ideal kita menjadi acuan untuk tahu apakah yang kita makan berlebihan atau kurang dari yang tubuh minta.

Pola menu harian tentu harus senantiasa bervariasi. Semakin bervariasi menu semakin memenuhi kecukupan vitamin-mineral.

Tubuh membutuhkan 40-an jenis vitamin-mineral, asam amino esensial, dan nutrisi lain yang tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri. Untuk itu tubuh hanya mengandalkan dari variasi menu harian, termasuk kebutuhan akan trace-elements. Kekurangan salah satu nutrisi esensial semacam ini untuk waktu lama tentu akan mengurangi kebugaran mesin tubuh yang harus terus beroperasi setiap saat.

Menu yang komplet, utamanya protein, dibutuhkan selain untuk melumasi, juga untuk mengganti bagian tubuh yang aus, dan pembentukan zat anti.

Sel tubuh perlu terus beregenerasi. Sel tubuh juga perlu diproteksi. Sel tidak boleh layu. Kualitas sel-sel tubuh menentukan kemuliaan umur kita.

Proses menua atau lekas menjadi tua, juga lantaran sel-sel tubuh tidak terawat dengan baik. Peran besar bagi perawatan sel diberikan oleh apa yang kita konsumsi setiap hari. Kondisi tubuh kita mencerminkan otobiografi gizi harlan kita.

Untuk bisa setua
Shirli-baba Muslimov dari Azerbaijan yang masih aktif sampai usia 168 tahun, setua rata-rata umur penduduk Hunza (Pakistan), atau penduduk Rusia dan Ekuador, tentu tak bisa jika kita masih mengikuti selera hidup meja makan kita selama ini.

Zaman memang sudah berubah, pertanian dan peternakan juga sudah berubah. Yang belum berubah tekad kita untuk berubah. Seperti penduduk yang berumur panjang, kita merencanakan untuk mengisi meja makan dengan
lebih banyak ikan dan unggas, membatasi daging, rutin mengonsumsi umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur organik, buah lokal (pepaya, pisang, belimbing, sirsak, sawo, manggis), dan tinggalkan kebiasaan mengisi piring seperti porsi makan pekerja kuli.

Sekali lagi, supaya adil dan arif memperlakukan tubuh sehingga mampu hidup merentang panjang sampai ke paling ujungnya, kita harus "makan dengan otak", bukan dengan emosi. @